Kamis, 18 Oktober 2012

Sabda Huruf Kecil




Syahdan,


Seorang lelaki memeras kertas bertuliskan bulan
merah perawan

Seorang perempuan sibuk mencabuti kata-kata yang
menusuki
lidahnya.

Matanya penuh kata-kata
Subuh hanyut

Malam penuh batu-batu
Huruf kecil meminta jiwaku

2012

Perjumpaan





Telah kusebut dua nama
Setangkup mawar di taman laksa
Di lembah arden
Di jejak rimba

Aku mencarinya yang terbang bebas
Dalam mimpi hilang sorga
Bukan ampas sia-sia
Bukan hina perjumpaan kita

Bukan jalan lurus saja
Bukan pula aku merayu
Mukaku saja semerah bunga sepatu
Mataku saja sepedih sirih
Bukan diam dan senyummu
Bukan tatap mata itu
Bukan Aku tergoda gila
Bukan haru di hari ketiga

Hanya,
Sembuhkan aku dari keheningan yang membakar.
Ini tubuhku rubuh
Menggantung separuh


Jumat, September 2012

Senin, 15 Oktober 2012

Deretak


Deretak
Sartika Dian Nuraini

Senja pecah. Angin masih saja selembut kulit coklat asam yang terlipat di kelopak matamu. Aku ingin menjadi debu yang menempel disana. Meski aku hanya patung. Meski tak ingin terbius angin yang berpura-pura. Meski masih kuingat derut matamu dengan jelas. Gelombang tatapan itu menggeranyam-di dadaku, hingga aku gugup berkeringat.
Lemas.
Dari detas cahayamu, kulihat bulan patah. Aku adalah kepingan patung yang meminta sembah puji darimu. Meski kadang aku menjelma menjadi embun bening, biar mampu meresap dalam daun-daun keheningan tatapanmu itu. Dan kau kubiarkan jadi purnama yang meremangiku mengecamba.
Di masa itu, setiap manusia menjadi patung yang mengelana. Aku pun menjadi patung yang seringkali menukar-nukar senja seenaknya. Kupikir, tiada salah selama masih ada matahari yang berbeda-beda. Selama mendung berbeda-beda. Dan langit berbeda-beda. Selama aku masih ingin menyimpannya untukmu, patung kecilku. 
Langit yang berbeda-beda: "ini perempuankah aku?"
Langit yang berbeda-beda: Senja merah yang kujaga dalam deriji kecil itu.
Langit berbeda-beda.
Setiap kali saat senja belum genap setengah, selalu saja gelap membadai. Aku mulai merindukan keberadaanmu bila senja berlalu singkat. Selebihnya aku tak sungkan menukar bulan jadi setengah senja saja. Walau tak ada yang istimewa dariku. Sebuah patung kecil dari batu cadas tanpa gerat gerigi.
Aku terus mengelana. Menjadi patung kecil, memandangi pulau-pulau lain. Patung-patung lain. Dan cinta-cinta lain. Aku terus membayangi diriku dengan khusyuk satu tatapanmu itu. Kau tutup telingaku, kau tutup mataku, kau tutup segala yang mampu melihat keberadaanmu, saat itulah deruk bayang-bayangmu seakan nyata. Jarak terbang seperti debudebu. Aku semacam dihimpit cahaya dalam deretak ganjil yang serupa merah daun sumba.
Sore singgah. Beri aku lantai agar aku bisa menidurkan kakiku yang bergetar tiap kali kau singgah. Tapi mungkin aku hanyalah geranggang rapuh, yang menjadi benalu diri sendiri.
Aku masih menjadi patung kecil saat kau wujudkan hari-hariku dengan makhluk kecil yang berlari-lari kecil. Aku seperti diwarnai oleh kehadirannya yang masih kecil. Makhluk itu pemberianmu dan pemberianku. Kita berdua ada di dalamnya. Kita berikan dia nafas kita berdua, darah kita berdua, jantung kita berdua, lambung kita berdua, rambut kita berdua, tulang kita berdua, tangan kita berdua. Kita jadikan dia manusia seutuhnya. Mungkin karena kita jengah menjadi patung. Mungkin karena aku yang terlalu takut ia membatu, sepertiku dan sepertimu. Aku terlalu takut. Kita terlalu lelah menjadi patung.
 Aku pun jengah menata tatapanmu.


2012

Kamis, 20 September 2012

Ascolta La Mia Voce

puisinya sembunyi di youtube:


ayo ayo lihat ya!

disini lho, disini...

http://www.youtube.com/watch?v=nfc-fiLv51Y





Salam petok-petok.








Lacuna


Puisiku bisa di lihat di sini ya.

Salam kukuruyuk.




http://www.youtube.com/watch?v=cWnagbQJmws&feature=channel&list=UL















Minggu, 02 September 2012

Percakapan dengan Ayah

Mataku merah jambu. Ayah membenci mata itu.

Hey, ayah.

Hey.

Apa kabar?

Mungkin baik.

Aku boleh bertanya?

Silakan.

Menjawab?

Silakan.

Pantas tidak kalau Aku jadi penyair?

Apa?

Penyair.

Penyair?

Iya. Penyair.

Hahaha. (keras)

Aku pun tertawa. Hahaha. (keras)

Dan kami berdua diam. Hening lama. Lama sekali.

Apakah Kau Sudah bertanya pada Ibumu?

Sudah.

Apa katanya?

Katanya, Aku tidak bisa jadi penyair.

Kenapa?

Karena Aku bukan Chairil.

Hmmm.

(ayahku, menghisap rokoknya, dalam. Dalam sekali)

Ibumu benar.

Iyakah? Kenapa?

Karena Kau masih anakku.

?? Kenapa?

Karena orang-orang akan menertawakanmu bila Kau
jadi penyair yang
punya ayah dan Ibu.

Aku terdiam. Lama. Lama sekali.

Di batinku perlahan tertata satu ruang arsip sastra:

"Aku bukan penyair". Kata sang penyair.

Percakapan dengan Ibu

Dulu, dulu sekali Ibuku pernah bilang padaku,

"Janganlah kau sekali-kali percaya
Pada kata cinta
Seorang penyair platonis
Karena Sejatinya mereka tak percaya
Pada kedalaman cinta, kecuali
pemujaan terhadap diri sendiri"

Apakah ibu mencintai ayah?
kukatakan kemarin.

Tapi Kenapa Ibu percaya pada Chairil?
"Mengapa Ibu selalu memberi sesaji padaku dan ayah sepotong puisinya setiap ulang-tahunmu? Kenapa hanya Chairil yang Ibu cintai di dunia ini, bukan ayah maupun Aku?"  Berondongku.

"Hmm, entahlah, Mungkin Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, yah walau dia platonis. Aku Sudah Berusaha membencinya, tetapi yang kurasakan adalah aku mungkin membencinya lebih, tetapi Aku tak bisa mencintainya kurang. Begitu."

Lalu aku bertanya lagi, Apakah kau membenci penyair platonis?

Ya,

Lalu bila aku platonis, Ibu membenciku?

Tidak

Kenapa?

Karena Kau bukan penyair.

Ah Aku bukan penyair?

Bukan.

Kenapa?

Karena Kau tidak seperti Chairil.

Aku diam. Hening lama sekali. Lama sekali.

Mungkin tenggelam dalam airmata ketika aku
mengendarai sebuah truk
dan menabrakkannya ke tempat tidurku